INGIN RASANYA KUUNGKAP SEGALA
Jika kau bertanya kepadaku, tentang seperti apa imajinasi yang kupunya?
Aku akan menatapmu, lalu kukatakan “Kita lihat saja nanti”.
Dan sungguh aku tahu apa yang terlintas dalam benakmu, kau sesegera mungkin akan memponisku bahwa aku adalah sosok seorang yang angkuh. Oke , that’s your problem.
Sebenarnya begitu banyak argument yang ingin ku luahkan namun lidahku seakan kelu untuk berungkap. Bukan alasan aku berani atau tidaknya, tapi ini lebih kepada kesungguh - sungguhan dalam menjiwai sesuatu yang disampaikan.
Dan yang menjadi tolak ukurku adalah aku tidak akan mempercayai kata kata tanpa action langsung dihadapanku , ini adalah aku Eli santika , terserah kalian mau men- judge aku seperti apa. Toh, kalian punya hak ya kan? Entahlah , aku saja tidak tahu mengapa sangat sulit untukku menerima pendapat bila ku tak menyaksikan prakteknya. Dan disela sela pernyataan yang disampaikan aku akan melirihkan kata , Alah BULLSHIT. Hahaha , aku tau kau pasti sangat membenciku karena tulisan ini. Eitsss, tunggu dulu. Sabar dulu ahh.
Oke check it out , di umurku yang tidak digolongkan sebagai remaja lagi tapi fase dewasa telah sampai kepadaku, aku tidak banyak menemui orang orang yang benar benar melakukan kata kata yang diutarakannya, bukan berarti tidak ada, Ada. Namun minim.
Aku sendiri sajapun tidak begitu paham mengapa generasi milenial yang aku kenal rata rata hanya membanggakan ucapan saja. Aku tidak mengerti ini alasannya apa? Apakah terlalu banyak mengkomsumsi spageti atau malah terlena dengan Era Revolusi Industri 4.0 ?
Hal ini yang membuatku tak ingin banyak berkutik jika tak bermakna? Jangan tanyakan padaku aku bisa membual atau tidak. Karena jika ku ilustrasikan dengan majas hiperbola, membual merupakan profesiku. Namun aku tahu itu tidak layak untuk kuterapkan apalagi mendalaminya.
Aku banyak tertipu oleh gerak gerikku sendiri, tak jarang aku membandingkan banding kelebihan mereka dengan kualitas yang kupunya. Aku merasa besar diantara mereka yang lemah, Aku merasa diriku adalah terhebat diantara mereka yang awam, lantas ??? ketika berpadanan dengan kompetisi yang sesungguhnya aku takut dan terkadang curang yang kulakukan, ku mencurangi mereka mereka yang ada ditengahku. Aahhggg entahlah, entah bagaimana aku menyelaraskan hatiku yang terkadang retak dan bertimbun kekonyolan ini.
Bahkan tak jarang ku tertipu dengan action yang mereka punya, ku mengaguminya lalu ku meniru. Hahaha , konyol bukan? Padahal jelas aku tahu bahwa apa apa yang kulakukan akan selalu bernilai selama aku sendiri tidak memperolok olok tindakan itu. Aku sering dikelabui oleh pikiranku sendiri.
Aku melakukan kesalahan berturut- turut, aku berpura pura tahu segalanya. Sehingga hal yang tak ku ingini mulai melandaku, awalnya aku woles sih, tapi hal yang tak kuinginpun bergonta ganti melandaku. Hingga sempat kala itu aku sedikit terpuruk, dan bermula dari seketika itu aku menyimpulkan bahwa
“Hendaklah jadi diri sendiri saja” dan kurangi ego yang kian menjulang.
Tak perlu banyak komentar kiri kanan atas bawah bila tak dapat berperan penuh didalamnya.
Aku ingin menerapkan TALK LESS DO MORE yang sudah ku lihat terpampang di lemari kecilku yang entah sengaja atau tidak di rekatkan oleh ayahku sejak duduk di bangku kelas 3 esde.
Dan aku tidak dapat memastikan hasil karena yang aku tahu TUGAS KITA BUKANLAH MEMASTIKAN HASIL MELAINKAN MEMASTIKAN TINDAKAN. oke see you.
Jika kau bertanya kepadaku, tentang seperti apa imajinasi yang kupunya?
Aku akan menatapmu, lalu kukatakan “Kita lihat saja nanti”.
Dan sungguh aku tahu apa yang terlintas dalam benakmu, kau sesegera mungkin akan memponisku bahwa aku adalah sosok seorang yang angkuh. Oke , that’s your problem.
Sebenarnya begitu banyak argument yang ingin ku luahkan namun lidahku seakan kelu untuk berungkap. Bukan alasan aku berani atau tidaknya, tapi ini lebih kepada kesungguh - sungguhan dalam menjiwai sesuatu yang disampaikan.
Dan yang menjadi tolak ukurku adalah aku tidak akan mempercayai kata kata tanpa action langsung dihadapanku , ini adalah aku Eli santika , terserah kalian mau men- judge aku seperti apa. Toh, kalian punya hak ya kan? Entahlah , aku saja tidak tahu mengapa sangat sulit untukku menerima pendapat bila ku tak menyaksikan prakteknya. Dan disela sela pernyataan yang disampaikan aku akan melirihkan kata , Alah BULLSHIT. Hahaha , aku tau kau pasti sangat membenciku karena tulisan ini. Eitsss, tunggu dulu. Sabar dulu ahh.
Oke check it out , di umurku yang tidak digolongkan sebagai remaja lagi tapi fase dewasa telah sampai kepadaku, aku tidak banyak menemui orang orang yang benar benar melakukan kata kata yang diutarakannya, bukan berarti tidak ada, Ada. Namun minim.
Aku sendiri sajapun tidak begitu paham mengapa generasi milenial yang aku kenal rata rata hanya membanggakan ucapan saja. Aku tidak mengerti ini alasannya apa? Apakah terlalu banyak mengkomsumsi spageti atau malah terlena dengan Era Revolusi Industri 4.0 ?
Hal ini yang membuatku tak ingin banyak berkutik jika tak bermakna? Jangan tanyakan padaku aku bisa membual atau tidak. Karena jika ku ilustrasikan dengan majas hiperbola, membual merupakan profesiku. Namun aku tahu itu tidak layak untuk kuterapkan apalagi mendalaminya.
Aku banyak tertipu oleh gerak gerikku sendiri, tak jarang aku membandingkan banding kelebihan mereka dengan kualitas yang kupunya. Aku merasa besar diantara mereka yang lemah, Aku merasa diriku adalah terhebat diantara mereka yang awam, lantas ??? ketika berpadanan dengan kompetisi yang sesungguhnya aku takut dan terkadang curang yang kulakukan, ku mencurangi mereka mereka yang ada ditengahku. Aahhggg entahlah, entah bagaimana aku menyelaraskan hatiku yang terkadang retak dan bertimbun kekonyolan ini.
Bahkan tak jarang ku tertipu dengan action yang mereka punya, ku mengaguminya lalu ku meniru. Hahaha , konyol bukan? Padahal jelas aku tahu bahwa apa apa yang kulakukan akan selalu bernilai selama aku sendiri tidak memperolok olok tindakan itu. Aku sering dikelabui oleh pikiranku sendiri.
Aku melakukan kesalahan berturut- turut, aku berpura pura tahu segalanya. Sehingga hal yang tak ku ingini mulai melandaku, awalnya aku woles sih, tapi hal yang tak kuinginpun bergonta ganti melandaku. Hingga sempat kala itu aku sedikit terpuruk, dan bermula dari seketika itu aku menyimpulkan bahwa
“Hendaklah jadi diri sendiri saja” dan kurangi ego yang kian menjulang.
Tak perlu banyak komentar kiri kanan atas bawah bila tak dapat berperan penuh didalamnya.
Aku ingin menerapkan TALK LESS DO MORE yang sudah ku lihat terpampang di lemari kecilku yang entah sengaja atau tidak di rekatkan oleh ayahku sejak duduk di bangku kelas 3 esde.
Dan aku tidak dapat memastikan hasil karena yang aku tahu TUGAS KITA BUKANLAH MEMASTIKAN HASIL MELAINKAN MEMASTIKAN TINDAKAN. oke see you.

Ini adalah... Blog yang cukup inspiratif menurut saya... saya suka dengan cara penulisan anda.. itu sangat mudah di tangkap...
ReplyDeleteSaya berharap Blog ini tidak berhenti sampai disini saja... saya ingin melihat tulisan inspiratif lainnya dari anda...
Thanks. . .
MasyaAllah. Thank you very much of your support Zie.
DeleteI know apapun yang kulakukan you selalu saja memberikan nilai lebih. I am pround have friend like you.
Oke sip zie, aku akan trying looking for and writing tulisan baru. Untukmu lanjutkan mimpi juga ya ..
I always dukung juga
ReplyDeleteif I am required to give the value of your work, I make sure this is truly invaluable.
thank you
Can you give me a reason please?
DeleteI ll be happy if you tell to me about thats because i need your suggestion. Thanks
Bagus el.... Terus semangat nulisnya 😂🙃
ReplyDeleteThanks ukhti eka
Delete