Gabutnya zamanku
Akhir-akhir ini aku sering bertanya pada jiwaku sendiri. Mengapa milenial yang aku kenal atau aku juga berada didalamnya hanya mementingkan keunggulan pribadi saja. Dan para orangtua juga berlomba lomba membahas keunggulan yang diperoleh anaknya, anakku begini, anakku begitu. Seolah olah hanya mereka yang paling berkualitas. Begitu juga dengan sekitarku, berlomba lomba mengejar ketenaran. Semua ingin dipuji, ingin ditiru lalu besar kepala. Sehingga tidak sedikit dari kita yang mengeyam pendidikan hanya untuk keliatan TOP saja, dan ingin didewa dewakan. Lalu, kita mengganggap pendidikan hanya sebagai prantara saja, tanpa benar-benar memahami makna yang terkandung didalamnya.
Sebagai mahasiswa, aku sangat merasakan kekalutan yang diadopsi oleh kebanyakan kita. Megerjakan tugas hanya untuk memenuhi sistem perkuliahan saja. Dan pertemuan dalam perkuliahan juga sudah diatur oleh kurikulum dan seakan kita mengacu pada kurikulum saja tanpa memperdulikan sejauh mana pemahaman kita terhadap pembelajaran yang diberikan, yang penting sistemnya sudah terpenuhi, berarti sudah, dan bila sudah selesai, penuhi lagi sistem lainnya, begitu seterusnya. Seolah kuliah hanya perlu ijazah saja. Supaya mudah dapat pekerjaan, mudah jadi PNS, dan memperkaya diri. Itu loh yang dikejar. Toh, nyatanya pengangguran bertebaran dimana mana.
Aku tidak paham ini sistem apa namanya? Apakah ini yang di sebut dengan zaman modern ? sehinnga bukan suatu keheranan lagi mengapa begitu banyak lulusan sarjana yang menjadi penggangguran. Banyak dari mahasiswa yang tidak bisa menciptakan apa apa. Bahkan yang memiliki IPK 4,0 sajapun tidak bisa menciptakan sesuatu yang berarti, konon lagi merka yang mempunyai IQ di bawah standar? Sebenarnya apa yang menjadi masalah dari ini semua. Apakah ini salah kami sebagai mahasiswa atau ada sistem lain yang memang sudah mengatur kesenjangan ini? Tak hentinya pemikiran ini bermuara dikepalaku. Dan menjadi problematika yang serius untukku dan mungkin untuk teman-teman yang sedang mengalami juga. Sebenarnya apa yang sedang diderita zamanku?
Oke go head, begitukah kejamnya zamanku? Sebenarnya aku rindu pada zaman islam terdahulu. Dimana pada zaman itu ketika soerang mempelajari sesuatu lantas bisa menciptakan sesuatu, seperti Al-Khaitam dapat menemukan rotasi bumi, Ibnu sina yang ahli dibidang kedokteran dan ilmunya dipakai hingga sekarang, Al-Khawarizmi yang merupakan ilmuan dibidang Matematika dan dapat menemukan angka Nol, dan masih banyak ilmuan lainnya yang tidak kalah cerdas. Sedangkan pada zamanku? Perubahan apa yang sudah ditaklukan? Remajanya hanya sibuk baper-baperan dan membucin saja. Padahal zamanku adalah zaman yang pengkomsumsi atau kita sebut zaman pemakai temuan ilmuan terdahulu. Namun tidak dapat menciptakan apapun. Mungkin aku juga adalah subjek dari kekeliruan ini.
Dear para pembaca, bantu aku menjawab jeritan jiwa ini. Apa yang salah didalam ini semua? APA? Aku merindukan tegaknya khilafah yang mana tidak ada keegoan untuk memperkaya diri saja, tapi semua untuk kesejahteraan ummat. Aku tidak ingin ummat menjerit dengan kemiskinan yang turun temurun. Namun apalah dayaku, aku berada pada sistem sekularisme. Hidup ya hidup. Agama ya agama. Jangan bawa bawa agama kedalaman kehidupan. Itulah zamanku. Aku hidup ditengan kekalutan, aku adalah ummat akhir zaman. Aku tdak tahu apakah aku masih ada di jagadraya ini ketika berdiri khilafah nanti. Atau aku masih berada pada tahapan kekejaman ini? Itu semua diluar nalarku. Pun demikian, tidak ada sesuatu yang dapat kuandalkan untuk menyambut kemenangan, akupun sibuk dengan pendidikanku, ku sibuk dengan tahta, yang ku tak tau kelak akan menjaminku atau malah menyeretku ke tempat yang tak kuingini. Nauzubillah. Aku benar-benar takut. Namun perbuatanku tak menunjukan itu semua. Astagfirullah, sebenarnya ini zaman apa?
Bercerita persoalan bagaimana kamu akan mengenali Allah, sementara sholatmu baru sebatas gerakan lahiriah, sedekahmu masih kau tulis di pembukuan laba rugi kehidupanmu, ilmumu kau gunakan untuk mencuri dan membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar, sementara bodoh saja tak punya. Aku kira cukup. Terimakasih.
Eli santika.

Comments
Post a Comment